BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu hal
penting untuk mencapai derajat
kesehatan yang optimal
adalah dengan memperhatikan
kesehatan wanita, khususnya kesehatan
reproduksi karena hal
tersebut berdampak luas, menyangkut
berbagai aspek kehidupan, serta merupakan parameter kemampuan
negara dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat (Pratiwi, 2013). Menurut World Health Organization (WHO),
kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan kesejahteraan fisik, mental dan
sosial secara utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala
aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya (Romauli,
2009: 1).
Salah satu
masalah kesehatan reproduksi
wanita adalah mioma
uteri dengan insiden yang
terus meningkat. Jumlah kejadian
penyakit ini di Indonesia menempati urutan
kedua setelah kanker serviks (Pratiwi,
2013). Di Indonesia, mioma uteri
di temukan 3,39% -
12,9% pada semua
penderita ginekologi yang di rawat di
RSUD (Aftisari, 2014)
Mioma uteri
merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya, sehingga dapat
dalam bentuk padat karena jaringan ikatnya dominan dan lunak karena otot
rahimnya dominan (Marmi, 2011: 210). Mioma uteri terjadi pada 20-25% perempuan
diusia reproduktif, tetapi oleh faktor yang tidak diketahui secara pasti.
Insidennya 3-9 kali lebih banyak pada ras kulit berwarna dibandingkan dengan
ras kulit putih. Selama 5 dekade terakhir, ditemukan 50% kasus mioma uteri
terjadi pada ras kulit berwarna (Winkjosastro, 2011: 274).
Kebanyakan
mioma tidak menimbulkan gejala. Sehingga tidak memerlukan penanganan. Tetapi
masalah dapat timbul jika terjadi perdarahan abnormal uterus yang berlebihan
sehingga mengakibatkan anemia, penekanan pada kandung kemih yang menyebabkan
sering berkemih dan urgensi, serta potensial untuk terjadinya sistisis,
penekanan pada rektum menyebabkan konstipasi dan nyeri jika tumor berdegenerasi
atau jika terjadi torsi dari mioma bertangkai
(Price, 2006: 1923).
Bedasarkan
data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Soewondo Kendal,
pada tahun 2013 terdapat jumlah kasus mioma uteri sebanyak 70 kasus, sedangkan
data yang diperoleh dari RSUD Dr. Adhiyatma kasus mioma uteri terdapat 11
kasus. Pada tahun 2014 bulan Januari sampai bulan Oktober di RSUD Dr. Adhiyatma
terdapat 8 kasus mioma uteri, sedangkan di RSUD Dr. H. Soewondo kendal angka
kejadian gangguan sistem reproduksi pada wanita mulai dari bulan Januari sampai
bulan November 2014 terdapat 123 kasus, antara lain mioma uteri sebanyak 65
kasus (52,8%), kista ovarium sebanyak 45 kasus (36,5%), kista bartholini
sebanyak 7 kasus (5,7%) dan prolaps uteri sebanyak 6 kasus (4,8%).
Berdasarkan
keterangan dari salah satu bidan di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal, saat pasien datang di poli atau di IGD kemudian
dilakukan anamnesa dan juga beberapa pemeriksaan, langkah selanjutnya yaitu
melakukan USG untuk menegakkan diagnosa. Apabila diketahui mioma dalam ukuran
besar dokter menganjurkan kepada pasien untuk dilakukan histerektomi, tetapi
apabila mioma berukuran kecil dokter menganjurkan untuk dilakukan curretage.
Apabila pasien datang dengan keadaan lemah, hal pertama yang dilakukan adalah
perbaikan keadaan umum terlebih dahulu dan apabila pasien terlihat pucat atau
HB kurang dari 10gr% bila perlu diberikan tranfusi darah.
Dari latar
belakang penulis tertarik untuk mengangkat tema atau mengambil kasus “Asuhan Kebidanan Gangguan Sistem Reproduksi pada Ny. S Dengan Mioma Uteri di
Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal” dengan menerapkan manajemen kebidanan
menurut Varney, serta pendokumentasian menurut SOAP.
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Penulis dapat melaksanakan Asuhan
Kebidanan Gangguan Sistem Reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri menggunakan
pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan pendokumentasian dengan
metode SOAP.
2. Tujuan Khusus
a.
Penulis
mampu melakukan pengumpulan data dasar baik data subyektif maupun obyektif,
yang dibutuhkan untuk menilai keadaan pasien secara keseluruhan pada asuhan kebidanan
gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
b.
Penulis
mampu menginterpretasi data pada asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi
pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar
RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
c.
Penulis
mampu mendiagnosa masalah atau kebutuhan asuhan kebidanan gangguan sistem
reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di
Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
d.
Penulis
mampu menetapkan kebutuhan akan tindakan segera dan bekolaborasi pada asuhan
kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
e.
Penulis
mampu menyusun rencana asuhan atau intervensi secara menyeluruh pada asuhan
kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
f.
Penulis
mampu melaksanakan asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan
Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo
Kendal.
g.
Penulis
mampu mengevaluasi keefektifan asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada
Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr.
H. Soewondo Kendal.
h.
Penulis
mampu melakukan pendokumentasian dengan SOAP pada asuhan kebidanan gangguan
sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
C.
Manfaat
1.
Bagi Penulis
Dapat dijadikan bahan acuan untuk
penelitian selanjutnya dan menambah wawasan baik bagi penulis sendiri maupun
setiap orang yang membaca hasil penelitian asuhan kebidanan gangguan sistem
reproduksi.
2.
Bagi Institusi Pendidikan
Menambah kepustakaan dan bahan
informasi mengenai masalah gangguan reproduksi dengan Mioma Uteri.
3.
Bagi Tenaga Kesehatan
Memberikan masukan dalam meningkatkan pengetahuan dan
keterampilan sehingga dapat meningkatkan mutu, serta kualitas tenaga kesehatan
khususnya mengenai kasus Mioma Uteri.
D. Metode Memperoleh Data
Metode pengumpulan data yang digunakan
penulis dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1.
Anamnesa / Wawancara
Wawancara adalah pembicara
yang terarah yang umumnya dilakukan pada pertemuan tatap muka langsung. Dalam
wawancara yang penting diperhatikan adalah data yang dinyatakan diarahkan ke
data yang relevan, berupa data subyektif (Asri, 2010: 76). Dalam kasus ini
penulis melakukan anamnesa dengan cara auto anamnesa yaitu melakukan
tanya jawab secara langsung kepada pasien seperti keluhan utama, riwayat perkawinan,
riwayat menstruasi, riwayat obstetri, riwayat keluarga berencana, riwayat
kesehatan, riwayat operasi, alergi obat/ makanan, pola pemenuhan kebutuhan
sehari-hari, keadaan psikologi.
2.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik
merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang
dialami oleh pasien, menambah informasi, menyangkal data yang diperoleh dari
riwayat pasien, mengidentifikasi masalah pasien, menilai perubahan status
pasien, dan mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah diberikan. Adapun
pemeriksaan fisik dilakukan dengan 4 cara yaitu, pemeriksaan dengan inspeksi,
perkusi, auskultasi, dan palpasi (Muslihatun,
2008: 140). Pemeriksaan fisik pada pasien dengan mioma uteri yaitu :
a.
Inspeksi
Inspeksi
merupakan proses observasi atau pengamatan untuk mendeteksi masalah kesehatan pada pasien. Cara efektif melakukan inspeksi
dengan memberikan pencahayaan yang cukup agar dapat membedakan warna, bentuk
dan kebersihan klien (Priharjo,2006: 25).
Pemeriksaan
inspeksi pada pasien mioma uteri yaitu dilakukan pemeriksaan dalam dengan spekulum.
Menentukan bagaimana besar rahim, posisi rahim, pergergerakan rahim,
konsistensi rahim atau adakah nyeri saat pemeriksaan; pada adneksa (bagian
kanan kiri rahim) apakah terdapat ketegangan atau kaku, terdapat tumor, atau
terasa nyeri saat pemeriksaan ; forniks posterior ( Kavum Douglas) apakah
menonjol karena terdapat nanah infeksi, apakah menonjol karena perdarahan kavum
abdominalis (Manuaba, 2010: 557).
b.
Palpasi
Palpasi
adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara meraba. Tujuannya untuk
mengetahui adanya kelainan, mengetahui perkembangan kehamilan (Romauli, 2011:
175).
Pemeriksaan
palpasi pada pasien mioma uteri akan teraba massa di daerah supra pubis atau
abdomen bagian kuadran bawah dengan konsistensi padat kenyal, bulat, berbatas
tegas, sering berbenjol atau bertangkai, mudah digerakkan, tidak nyeri
(Nugroho, 2010: 108).
3.
Pemeriksaan Penunjang
Pada kondisi
tertentu, pasien harus menjalani
beberapa pemeriksaan penunjang untuk melengkapi data yang telah dikumpulkan dan
keperluan menegakkan diagnosis pasien, misalnya : pemeriksaan laboratorium,
USG, biopsi (Muslihatun, 2009: 216-217). Pada penderita mioma uteri dilakukan pemeriksaan
laboratorium, USG, Laparoskopi, tes kehamilan dan pemeriksaan dalam. Pemeriksaan
laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan darah lengkap, urine lengkap, gula
darah, tes fungsi hati, ureum, dan kreatinin. Pemeriksaan USG untuk menentukan
jenis
tumor, lokasi mioma, ketebalan
endometrium, dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. Pemeriksaan laparoskopi
dilakukan untuk mengevaluasi massa pada pelvis. Pemeriksaan tes kehamilan
dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi yang terjadi pada pasien yang
sedang hamil, pemeriksaan dalam dilakukan untuk memeriksa besar kecil tumor dan
pergerakan tumor dapat berbatas tegas atau bebas (Setiati, 2009: 95-96).
4.
Dokumentasi
Dokumentasi adalah
persiapan atau catatan komunikasi mendorong untuk membuktikan suatu informasi
atau kejadian. Dalam pelayanan kebidanan, dokumentasi merupakan bagian dari
kegiatan bidan setelah memberikan asuhan kebidanan (Muslihatun, 2009: 3).
Penulis mengumpulkan data
dengan cara melihat Rekam Medis (RM) pasien yang meliputi catatan keperawatan /
catatan kebidanan serta hasil diagnosa dari status pasien dan mempelajarinya
sehingga dapat membantu dalam penulisan karya tulis ilmiah ini.
5.
Studi Kasus
Studi kasus dilakukan dengan cara
meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal
(Notoatmodjo, 2010: 47). Penulis membuat asuhan kebidanan gangguan reproduksi
dengan mioma uteri mulai dari data-data yang telah dikumpulkan seperti anamnesa
dan pemeriksaan fisik sampai dengan melakukan evaluasi.
6.
Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk
memperoleh dukungan teoritis terhadap masalah penelitian yang dipilih, maka
penulis perlu banyak membaca buku literatur, baik berupa buku-buku teks (teori)
maupun hasil penelitian orang lain, majalah, jurnal dan sebagainya
(Notoatmodjo, 2010: 22). Dalam pengumpulan data-data dan teori penulis
mengambil dari sumber buku-buku masalah ginekologi serta hasil penelitian orang
lain dari internet. Sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan
relevan dengan kasus mioma uteri.
E. Sistematika Penulisan
Dalam penyusunan karya tulis ilmiah
ini terbagi menjadi lima bab :
BAB I : Pendahuluan
Berisi
latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode memperoleh data,
dan sistematika penulisan.
BAB II : Tinjauan Teori
Berisi
landasan teori yang digunakan oleh penulis dengan memberikan konsep
pengembangan yang terdiri dari tinjauan teori mioma uteri yang meliputi :
batasan / definisi, etiologi / faktor presdiposisi, fisiologi / patofisiologi,
tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan medis pada kasus mioma uterii dan teori kebidanan. Dalam
teori kebidanan masih dibagi menjadi dua bagian yaitu manajemen kebidanan dan
pendokumentasian dengan SOAP.
BAB III : Tinjauan Kasus
Berisi
tentang tinjauan kasus dilahan mulai dari pengkajian data, interpretasi data,
diagnosa potensial, identifikasi kebutuhan segera, perencanaan, pelaksanaan dan
evaluasi.
BAB IV : Bahasan
Menguraikan
tentang kesamaan atau kesenjangan dan masalah yang muncul serta cara
mengatasinya selama melaksanakan asuhan kebidanan dengan teori-teori atau
konsep-konsep.
BAB V : Penutup
Berisi
tentang kesimpulan dan saran-saran yang sesuai dengan masalah.
Daftar pustaka
Lampiran.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.
Teori Medis
1.
Pengertian
Mioma uteri adalah suatu tumor jinak pada rahim yang
berasal dari otot rahim. Biasa disebut mioma atau myom atau tumor otot rahim (Rukiah, 2012: 141). Mioma uteri merupakan tumor jinak yang
struktur utamanya adalah otot polos rahim (Winkjosastro, 2011: 274).
Mioma uteri merupakan
tumor jinak otot rahim yang disertai jaringan ikatnya. Mioma uteri berbatas
tegas, tidak berkapsul, dan berasal dari otot polos jaringan fibrous sehingga
mioma uteri dapat berkonsistensi padat jika jaringan ikatnya dominan dan berkonsistensi
lunak jika otot rahimnya yang dominan (Setiati,
2009: 84).
Berdasarkan pengertian diatas dapat
disimpulkan bahwa mioma uteri adalah sebuah tumor jinak yang ada didalam rahim
dan tumor tersebut berasal dari otot polos rahim. Karena berasal dari otot
polos rahim maka biasa disebut tumor otot rahim atau mioma dan myom.
2.
Etiologi
Penyebab pasti mioma uteri tidak diketahui secara pasti. Mioma
jarang sekali ditemukan sebelum usia pubertas, sangat dipengaruhi oleh hormon
reproduksi, dan hanya bermanifestasi selama usia reproduktif (Winkjosastro,
2011: 274). Namun, pertumbuhannya tampak berkaitan dengan stimulasi estrogen
karena mioma sering membesar pada saat kehamilan dan penggunaan obat
kontrasepsi oral, dan menyusut saat menopouse. Mungkin juga terdapat komponen
genetik (Suslia, 2014: 463).
Ada
beberapa faktor yang diduga merupakan penyebab terjadinya mioma uteri, antara
lain :
a.
Umur : mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20
tahun. Ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini
paling sering memberikan gejala klinis pada usia antara 35-45 tahun.
b.
Paritas : lebih sering terjadi pada nulipara atau pada wanita
yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah
infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya, mioma uteri yang
menyebabkan infertilitas atau apakah keadaan kedua ini saling mempengaruhi.
c.
Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya
wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor
ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang
menderita mioma.
d.
Fungsi ovarium : diperkirakan ada korelasi antara hormon
estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke,
berkembang setelah kehamilan, dan mengalami regresi setelah menopouse.
Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat
mengurangi ukuran mioma. Pertumbuhan mioma uteri sangat cepat saat kehamilan
dan jika dilakukan terapi ekstrogen eksogen. Mioma akan mengecil pada saat
menopouse dan pengangkatan ovarium. Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan
anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Enzim hydroxydesidrosenase mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat)
menjadi estron (estrogen lemah). Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin
berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor
pertumbuhan lain. Progesteron
merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan
mioma dengan dua cara, yaitu mengaktifkan hidroxydsidrogenase
dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor
pertumbuhan epidermal, dan insuline-like
growth factor pertama yang distimulasi oleh estrogen.
(Setiati, 2009: 86-88).
e.
Obesitas
: wanita yang terlalu gemuk (obesitas) tidak memiliki keturunan dan tidak menikah
memiliki faktor yang besar terkena mioma uteri (Aulia, 2012: 57). Untuk
mengetahui wanita tersebut obesitas atau tidak yaitu dihitung dengan IMT (
Indeks Masa Tubuh) rumusnya IMT = BB (kg) : TB (m)2. IMT normal yaitu 18,5-22,9
(Kurniasari, 2010: 27).
3.
Patofisiologi
Asal mulanya penyakit mioma uteri berasal dari otot polos
rahim. Beberapa teori menyebutkan pertumbuhan tumor ini disebabkan rangsangan
hormon estrogen. Pada jaringan mioma jumlah reseptor estrogen lebih tinggi
dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya sehingga mioma
uteri ini sering sekali tumbuh lebih cepat pada kehamilan (membesar pada usia
reproduksi) dan biasanya berkurang ukurannya setelah menopouse (mengecil pada
pasca menopouse). Sering kali tumor jinak rahim kearah rongga ini membesar dan
bertumbuh keluar dari mulut rahim. Tumor yang ada dalam rahim dapat tumbuh
lebih dari satu, teraba seperti kenyal, bentuknya bulat dan berbenjol-benjol
sesuai ukuran tumor. Beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram saja, namun
bisa juga mencapai lima kilogram atau lebih (Rukiyah,
2012: 141).
4.
Klasifikasi
Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uterus
hanya 1-3%, sisanya adalah dari korpus uteri. Sesuai dengan lokasinya, mioma
ini dibagi menjadi tiga jenis, antara lain :
a.
Mioma
Submukosum
Mioma
ini berada di bawah lapisan endometrium
dan menonjol ke dalam kavum uteri, dapat tumbuh bertangkai dan
dilahirkan melalui serviks (myomgemburt) (Rasjidi, 2010: 25). Pengaruhnya pada
vaskularisasi dan luas permukaan endometrium menyebabkan terjadinya perdarahan
ireguler. Mioma jenis ini dapat bertangkai panjang sehingga dapat keluar
melalui ostium serviks. Yang harus diperhatikan dalam menangani mioma
bertangkai adalah kemungkinan terjadinya torsi dan nekrosis sehingga risiko infeksi
sangatlah tinggi (Winkjosastro, 2011: 275).
b.
Mioma
Intramural
Mioma
ini terletak di dalam dinding uterus diantara serabut miometrium (Rasjidi, 2010: 26). Mioma intramural atau insterstisiel adalah mioma yang
berkembang diantara miometrium (Winkjosastro,
2011: 275).
c.
Mioma
Subserosum : tumbuh keluar dinding uterus hingga menonjol pada permukaan
uterus, diliputi oleh lapisan serosa (Rasjidi,
2010: 26). Mioma subserosa juga
dapat menjadi parasit omentum atau usus untuk vaskularisasi tambahan bagi
pertumbuhannya (Winkjosastro, 2011: 275).
5.
Degenerasi
Bila terjadi perubahan pasokan darah selama
pertumbuhannya, maka mioma dapat mengalami perubahan sekunder atau degeneratif
sebagai berikut :
a.
Degenerasi
Jinak
1)
Atrofi
: ditandai dengan pengecilan tumor yang umumnya terjadi setelah persalinan atau
menopouse.
2)
Hialin
: terjadi pada mioma yang telah matang atau “tua” di mana bagian yang semula
aktif tumbuh kemudian terhenti akibat kehilangan pasokan nutrisi dan berubah
warnanya menjadi kekuningan, melunak atau melebur menjadi cairan gelatin
sebagai tanda terjadinya degenerasi hialin.
3)
Kistik
: setelah mengalami hialinisasi, hal tersebut berlanjut dengan cairnya gelatin
sehingga mioma konsistensinya menjadi kistik. Adanya kompresi atau tekanan
fisik pada bagian tersebut dapat menyebabkan keluarnya cairan kista ke kavum
uteri, kavum peritonium, atau retroperitonium.
4)
Kalsifikasi
: disebut juga degenerasi kalkareus yang umumnya mengenai mioma subserosa yang
sangat rentan terhadap defisit sirkulasi yang dapat menyebabkan pengendapan
kalsium karbonat dan fosfat di dalam tumor.
5)
Septik
: defisit sirkulasi dapat menyebabkan mioma mengalami nekrosis di bagian tengah
tumor yang berlanjut dengan infeksi yang ditandai dengan nyeri, kaku dinding
perut, dan demam akut.
6)
Kaneus
: disebut juga degenerasi merah yang diakibatkan oleh trombosis yang diikuti
dengan terjadinya bendungan vena dan perdarahan sehingga menyebabkan perubahan
warna mioma. Degenerasi jenis ini, seringkali terjadi bersamaan dengan
kehamilan karena kecepatan pasokan nutrisi bagi hipertrofi miometrium lebih
& diprioritaskan sehingga mioma mengalami defisit pasokan dan terjadi
degenerasi aseptik dan infark. Degenerasi ini disertai rasa nyeri tetapi akan
menghilang sendiri (self limited).
7)
Miksomatosa
: disebut juga degenerasi lemak yang terjadi setelah proses degenerasi hialin
dan kistik. Degenerasi ini sangat jarang dan umumnya asimtomatik.
b.
Degenerasi
Ganas
Transformasi
ke arah keganasan (menjadi miosarkoma) terjadi pada 0,1% - 0,5% penderita mioma
uteri.
(Winkjosastro, 2011: 275-276).
6.
Tanda dan Gejala
Gejala klinik hanya terjadi pada 35% -50% penderita
mioma. Hampir sebagian besar penderita tidak mengetahui bahwa terdapat kelainan
di dalam uterusnya, terutama sekali pada penderita dengan obesitas. Keluhan penderita
sangat tergantung pula dari lokasi atau jenis mioma yang diderita. Berbagai
keluhan penderita dapat berupa :
a.
Perdarahan
Abnomali Uterus
Perdarahan
menjadi manifestasi klinik utama pada mioma dan hal ini terjadi pada 30%
penderita. Bila terjadi secara kronis maka dapat terjadi anemia defisiensi zat
besi dan bila berlangsung lama dan dalam jumlah yang besar maka sulit untuk
dikoreksi dengan suplementasi zat besi. Perdarahan pada mioma submukosa
seringkali diakibatkan oleh hambatan pasokan darah endometrium, tekanan dan
bendungan pembuluh darah di area tumor (terutama vena) atau ulserasi
endometrium di atas tumor. Tumor bertangkai seringkali menyebabkan trombosis
vena dan nekrosis endometrium akibat tarikan dan infeksi (vagina dan kavum
uteri terhubung oleh tangkai yang keluar dari ostium serviks). Dismenorea dapat
disebabkan oleh efek tekanan, kompresi, termasuk hipoksia lokal miometrium.
b.
Nyeri
Mioma
tidak menyebabkan nyeri dalam pada uterus kecuali apabila kemudian terjadi
gangguan vaskuler. Nyeri lebih banyak terkait dengan proses degenerasi akibat
oklusi pembuluh darah, infeksi, torsi tangkai mioma atau kontraksi uterus
sebagai upaya untuk mengeluarkan mioma subserosa dari kavum uteri. Gejala
abdomen akut dapat terjadi bila torsi berlanjut dengan terjadinya infark atau
degenerasi merah yang mengiritasi selaput peritoneum (seperti peritonitis).
Mioma yang besar dapat menekan rektum sehingga menimbulkan sensasi untuk
mengedan. Nyeri pinggang dapat terjadi pada penderita mioma yang menekan
persarafan yang berjalan di atas permukaan tulang pelvis.
c.
Efek
Penekanan
Walaupun
mioma dihubungkan dengan adanya desakan tekan, tetapi tidaklah mudah untuk
menghubungkan adanya penekanan organ dengan mioma. Mioma intramural sering
dikaitkan dengan penekanan terhadap organ sekitar. Parasitik mioma dapat
menyebabkan obstruksi saluran cerna perlekatannya dengan omentum menyebabkan
strangulasi (penyumbatan), dispareunia, dan infertilitas.
Bila
ukuran tumor lebih besar lagi, akan terjadi penekanan ureter, kandung kemih dan
rektum. Semua efek penekanan ini dapat dikenali melalui pemeriksaan Intra Vena Pielografi (IVP), kontras
saluran cerna, rontgen, dan Magnetic Resonan Imaging (MRI). Abortus
spontan dapat disebabkan oleh efek penekanan langsung mioma terhadap kavum
uteri (Winkjosastro, 2011: 277).
Menurut Ai Yeyeh Rukiah dan Lia Yulianti (2012: 142), gejala
yang timbul pada pasien mioma uteri bergantung pada lokasi dan besarnya tumor,
namun yang paling sering ditemukan adalah :
1)
Sering
abortus karena terdapat gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim melalui
plasenta;
2)
Gejala
sekunder biasanya terjadi anemia (pendarahan), uremia (desakan ureter
menimbulkan gangguan fungsi ginjal);
3)
Pendarahan
yang banyak dan lama selama masa haid ataupun diluar masa haid;
4)
Rasa
nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya tangkai tumor, serta adanya infeksi
di dalam rahim;
5)
Penekanan
organ di sekitar tumor seperti kandung kemih, ureter, rektum atau organ rongga
panggul lainnya, menimbulkan gangguan buang air basar dan buang air kecil,
pelebaran pembuluh darah vena dalam pangggul, gangguan ginjal karena
pembengkakan tangkai tumor;
6)
Gangguan
sulit hamil karena terjadi penekanan pada saluran indung telur;
7)
Pada
bagian bawah perut dekat rahim terasa kenyal;
8)
Sering
kali penderita merasa nyeri akibat mioma mengalami degenerasi atau kontraksi
uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim. Pasangan suami
istri sering kali sulit untuk punya anak (infertilitas) disebabkan gangguan
pada tuba, gangguan implantasi pada endometrium, penyumbatan dan sebagainya.
7.
Penatalaksanaan Medik
Penanganan mioma harus memperhatikan
usia, paritas, kehamilan, konservasi fungsi reproduksi, keadaan umum, dan
gejala yang ditimbulkan. Bila kondisi pasien sangat buruk, lakukan upaya
perbaikan yang diperlukan termasuk nutrisi, suplementasi zat esensial, ataupun
tranfusi. Pada keadaan gawat darurat akibat infeksi atau gejala abdominal akut,
siapkan tindakan bedah gawat darurat untuk menyelamatkan penderita. Pilihan
prosedur bedah terkait dengan mioma uteri adalah miomektomi atau histerektomi
(Winkjonsatro 2011: 278).
Menurut Setiati Eni (2009: 97-100)
penanganan mioma uteri dibagi atas kelompok-kelompok sebagai berikut :
a.
Penanganan
konservatif, dilakukan jika mioma yang kecil muncul pada pra dan post menopouse
tanpa adanya gejala. Cara penanganannya adalah :
1)
Observasi
dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan;
2)
Jika
terjadi anemia, maka Hb kurang, yang dilakukan adalah pemberian zat besi ke
pasien;
3)
Penggunaan
agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari pertama sampai hari ketiga
menstruasi setiap minggu, sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan
tumor dan menghilangkan gejala. Obat ini
menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan keadaan hipoestrogenik yang
serupa dengan yang ditemukan pada periode postmenopouse. Efek maksimum dalam
mengurangi ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu. Terapi agonis GnRH ini
dapat pula diberikan sebelum pembedahan karena memberikan beberapa keuntungan,
antara lain mengurangi hilangnya darah selama pembedahan dan mengurangi
kebutuhan akan transfusi darah.
b.
Penanganan
operatif, dilakukan jika terjadi hal-hal berikut ;
1)
Ukuran
tumor lebih besar dari ukuran usia kehamilan 12-14 minggu;
2)
Pertumbuhan
tumor cepat;
3)
Mioma
subserosa bertangkai dan torsi;
4)
Dapat mempersulit kehamilan berikutnya;
5)
Hipermenorea
pada mioma submukosa;
6)
Penekanan
pada organ sekitarnya.
Jenis
penanganan operatif yang dilakukan untuk mengatasinya dapat berupa :
1)
Enukleasi
Mioma (Pengangkatan Mioma)
Langkah
ini dilakukan pada penderita yang infertil, masih menginginkan anak, atau
mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini, tampaknya
langkah ini aman, efektif, dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi
sebaiknya tidak dilakukan jika ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium
atau sarkoma uterus dan dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya
dibatasi pada tumor dengan tangkai dan tumor yang dengan mudah dijepit dan
diikat. Bila miomektomi menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan
dengan endometrium, maka kehamilan berikutnya harus dilahirkan dangan seksio
sesarea. Menurut American Collage of
Obstetricians Gynekologist (ACOG), kriteria preoperasi adalah sebagai
berikut:
a)
Kegagalan
untuk hamil atau keguguran berulang;
b)
Terdapat
mioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas;
c)
Alasan
yang jelas dari penyebab kegagalan kehamilan dan keguguran yang berulang tidak
ditemukan.
2)
Histerektomi
Histerektomi
dilakukan jika pasien tidak menginginkan anak lagi dan pada pasien yang
memiliki mioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG untuk histerektomi adalah sebagai
berikut :
a)
Terdapat
satu sampai tiga mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan
dikeluhkan oleh pasien;
b)
Perdarahan
uterus berlebihan;
c)
Perdarahan
yang banyak, bergumpal-gumpal, atau berulang-ulang selama lebih dari delapan
hari;
d)
Anemia
akut atau kronis akibat kehilangan darah.
Rasa
tidak nyaman pada bagian pelvis akibat mioma meliputi hal-hal berikut:
(1) Nyeri hebat dan akut;
(2) Rasa tertekan yang kronis dibagian
punggung bawah atau perut bagian bawah;
(3) Penekanan buli-buli dan frekuensi
urine yang berulang-ulang dan tidak disebabkan infeksi saluran kemih.
3)
Penanganan
Radioterapi
Tujuan
dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan. Langkah ini dilakukan
sebagai penanganan dengan kondisi sebagai berikut :
a)
Hanya
dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient);
b)
Uterus
harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu;
c)
Bukan
jenis submukosa;
d)
Tidak
disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum;
e)
Tidak
dilakukan pada wanita muda karena dapat menyebabkan menopouse.
8.
Diagnosis Banding
Diagnosis banding yang perlu kita
pikirkan tumor abdomen di bagian bawah atau panggul adalah mioma subserosum dan
kehamilan, mioma submukosum yang dilahirkan harus dibedakan dengan inversio
uteri; mioma intramural harus dibedakan dengan suatu adenomiosis, khoriokarsinoma,
karsinoma korposis uteri atau suatu sarkoma uteri. USG abdominal dan
trasvaginal dapat membantu dalam menentukan dugaan klinis (Marmi, 2011: 212).
Diagnosis banding mioma antara lain
adenomiosis, kehamilan, kehamilan ektopik, kista atau tumor ovarium, keganasan,
Penyakit Radang Panggul (PRP), infeksi saluran kemih, subinvolusi, kelainan
kongenital, hiperplasia endometrium/ kanker endometrium, (Tubo Ovarial Abscess) TOA atau patologi tuba lain, apendisitis,
tumor usus atau patologi lain, endometriosis (sering menyertai mioma), dan
kanker ovarium serta kanker uterus. Diagnosis dugaan ditegakkan berdasarkan
pemeriksaan pelvis, yang dikonfirmasi dengan ultrasonografi, Magnetic Resonan Imaging (MRI) (untuk
membedakan adenomioma dari mioma), Computerized
Tomografi Scanning) CT scan (hasil yang masih diragukan),
histerosalpingogram, histerosonogram, atau endokospi. Jika terjadi perdarahan
abnormal atau jika wanita menderita adenomiosis, biopsi endometrium dilakukan
untuk menyingkirkan hiperplasia endometrium (Komalasari,
2009: 610).
B.
Teori Manajemen Asuhan
Kebidanan
1.
Pengertian
Manajemen Kebidanan
Manajemen kebidanan adalah pendekatan
yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara
sistematis mulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa kebidanan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Estiwidani,
2008: 124). Bidan sebagai pemberi asuhan harus mampu memegang prinsip
pelaksanaan pelayanan kebidanan dengan pola pikir yang benar, asuhan yang
benar, prosedur praktik yang benar, dan pendokumentasian asuhan yang benar.
Pola pikir yang benar adalah pola pikir yang sistematis dan berdasarkan fakta
(Simatupang, 2008: 122). Manajemen asuhan kebidanan terdiri dari
beberapa langkah yang berurutan dimulai dengan pengumpulan data dasar dan
berakhir dengan evaluasi. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang
lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi (Sujiati, 2009: 143).
2.
Tujuh Langkah Manajemen
Kebidanan Menurut Hellen Varney
a.
Langkah
I :Pengumpulan data
Data
yang harus dikumpulkan pada pasien dengan gangguan sistem reproduksi, meliputi
: biodata/ identitas baik pasien maupun suami/ keluarga, data subyektif dan
data obyektif, yang terdiri atas pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul dan pemeriksaan panggul dan pemeriksaan laboratorium/
penunjang lainnya. Biodata yang dikumpulkan dari pasien dan suami/ keluarganya,
meliputi nama, umur, agama, suku/ bangsa, pendidikan, pekerjaan dan alamat
lengkap (Muslihatun, 2009: 215).
b.
Langkah
II : Interpretasi data dasar
Pada
langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah
dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang
dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga
ditemukan atau masalah atau diagnosa yang spesifik.
Diagnosa
kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan
dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Masalah
/ diagnosa adalah suatu pernyataan dari masalah pasien / klien yang nyata atau
potensial dan membutuhkan tindakan untuk merencanakan cara mengatasinya (Muslihatun,
2009: 217).
Kebutuhan
pada pasien bedasarkan keadaan dan masalahnya. Misalnya bidan memberikan KIE
kepada ibu dan keluarga yang menjadi masalah ibu (Sulistyawati, 2011: 180).
c.
Langkah
III: Diagnosa potensial
Pada
langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau mendiagnosis potensial lain
berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang telah diidentifikasikan.
Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan,
sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis/
masalah potensial ini benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam
melakukan asuhan yang aman (Estiwidani, 2008:
135).
d.
Langkah
IV: Antisipasi tindakan segera
Mengidentifikasi
perlunya tindakan segera oleh bidan, dokter dan untuk dikonsultasikan atau
ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi
klien. Jika diagnosa potensial muncul, maka identifikasi kebutuhan segera dapat
dilakukan sesuai dengan kebutuhan ibu atau bidan berkolaborasi dengan dokter
spesialis kebidanan atau dokter berkolaborasi dengan tim kesehatan yang lain
(Muslihatun, 2009: 117).
e.
Langkah
V : Perencanaan
Pada langkah ini, direncanakan asuhan yang menyeluruh yang
ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan
manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasikan atau
diantisipasi. Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh kedua pihak, yaitu
oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien
merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut (Simatupang, 2008: 125).
f.
Langkah
VI: Pelaksanaan
Pada
langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh di langkah kelima harus dilaksanakan
secara efisien dan aman. Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan
dokter, untuk klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam
manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya
rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut (Muslihatun, 2009: 118).
g.
Langkah
VII: Evaluasi
Pada
langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan
meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar terpenuhi sesuai
dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifiakasi didalam diagnosa dan masalah
dan diagnosis. Rencana tersebut lebih efektif jika memang benar efektif dalam
pelaksanaanya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut lebih efektif
sedangkan sebagian belum efektif. Proses manajemen pada umumnya merupakan
pengkajian yang menjelaskan proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta
berorientasi pada proses klinik (Muslihatun, 2009:119).
4.
Pendokumentasian
Manajemen
SOAP : Menurut Helen Varney, alur berfikir bidan saat menghadapi klien meliputi
tujuh langkah, agar diketahui orang lain apa yang telah dilakukan oleh seorang
bidan melalui proses berfikir sistematis, maka di dokumentasikan dalam bentuk
SOAP, yaitu :
a.
S
: Subyektif
Merupakan
pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen Varney langkah pertama
(pengkajian data), terutama data yang diperoleh melalui anamnesis.
b.
O
: Obyektif
Merupakan
pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen Varney pertama (pengkajian
data), terutama data yang diperoleh melalui hasil observasi yang jujur dari
pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan lain.
c.
A : Assesment
Merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi (kesimpulan) dari data
subyektif dan obyektif. Assesment merupakan
pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen Varney langkah kedua,
ketiga, dan keempat sehingga mencakup hal-hal berikut ini :
1)
Diagnosis/
masalah kebidanan;
2)
Diagnosis/
masalah potensial;
3)
Identifikasi
kebutuhan tindakan segera menurut kewenangan bidan.
d.
P
: Planing
Membuat
rencana asuhan saat ini dan yang akan datang. Rencana asuhan disusun
berdasarkan hasil analisis dan interpretasi
data. Perencanaan meliputi pendokumentasian manajemen kebidanan Helen Varney
langkah kelima, keenam dan ketujuh (Muslihatun,
2009: 123).
C. Landasan
Hukum Kewenangan Bidan Pada Kasus Gangguan Kesehatan Sistem Reproduksi
1. Dalam PERMENKES RI NOMOR
1464/MENKES/PER/X/2010 pada BAB III tentang penyelenggaraan praktik, antara
lain :
a.
Pada
pasal 9 dijelaskan bahwa bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk
memberikan pelayanan yang meliputi :
1)
Pelayanan
kesehatan ibu;
2)
Pelayanan
kesehatan anak; dan
3)
Pelayanan
kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.
b.
Pada
pasal 12 dijelaskan bahwa bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi
perempuan dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c,
berwenang untuk :
1)
Memberikan
penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana;
dan
2)
Memberikan
alat kontrasepsi oral dan kondom.
2. Kompetensi bidan di Indonesia Dalam
melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Wanita/ Ibu dengan Gangguan Reproduksi
terdapat pada kompetensi 9.
a.
Pengetahuan
dasar
1)
Penyuluhan
kesehatan mengenai kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual (PMS),
HIV/AIDS.
2)
Tanda
dan gejala infeksi saluran kemih serta penyakit seksual yang lazim.
3)
Tanda,
gejala dan penatalaksanaan pada kelainan ginekologi meliputi : keputihan,
perdarahan tidak teratur dan penundaan haid.
b.
Keterampilan
dasar
1)
Mengidentifikasi
gangguan masalah dan kelainan-kelainan sistem reproduksi.
2)
Memberikan
pengobatan pada perdarahan abnormal dan abortus spontan (bila belum sempurna)
3)
Melaksanakan
kolaborasi dan atau rujukan secara tepat pada wanita/ ibu dengan gangguan
sistem reproduksi
4)
Memberikan
pelayanan dan pengobatan sesuai dengan kewenangan pada gangguan sistem
reproduksi meliputi: keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid
5)
Mendokumentasikan
temuan-temuan dan intervensi yang dilakukan.
3. Keterampilan tambahan
1)
Menggunakan
mikroskop untuk pemeriksaan hapusan vagina
2)
Mengambil
dan pengiriman sediaan pap smear
(Estiwidani
et al, 2008; 97-98).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar