Jumat, 30 Oktober 2015

mioma uteri

BAB I

PENDAHULUAN


A.     Latar Belakang

Salah  satu hal  penting untuk mencapai derajat  kesehatan  yang  optimal  adalah dengan memperhatikan  kesehatan  wanita, khususnya  kesehatan  reproduksi  karena  hal  tersebut  berdampak luas,  menyangkut  berbagai  aspek  kehidupan, serta  merupakan parameter  kemampuan  negara  dalam  menyelenggarakan pelayanan kesehatan terhadap masyarakat (Pratiwi, 2013). Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan reproduksi merupakan suatu keadaan kesejahteraan fisik, mental dan sosial secara utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi, serta prosesnya (Romauli, 2009: 1).
Salah  satu  masalah  kesehatan  reproduksi  wanita  adalah  mioma  uteri  dengan insiden yang terus  meningkat. Jumlah  kejadian  penyakit  ini  di Indonesia menempati  urutan  kedua  setelah kanker  serviks (Pratiwi, 2013). Di Indonesia,  mioma  uteri  di  temukan 3,39%  -  12,9%  pada  semua  penderita ginekologi  yang  di  rawat  di  RSUD (Aftisari, 2014)
Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim, disertai jaringan ikatnya, sehingga dapat dalam bentuk padat karena jaringan ikatnya dominan dan lunak karena otot rahimnya dominan (Marmi, 2011: 210). Mioma uteri terjadi pada 20-25% perempuan diusia reproduktif, tetapi oleh faktor yang tidak diketahui secara pasti. Insidennya 3-9 kali lebih banyak pada ras kulit berwarna dibandingkan dengan ras kulit putih. Selama 5 dekade terakhir, ditemukan 50% kasus mioma uteri terjadi pada ras kulit berwarna (Winkjosastro, 2011: 274).
Kebanyakan mioma tidak menimbulkan gejala. Sehingga tidak memerlukan penanganan. Tetapi masalah dapat timbul jika terjadi perdarahan abnormal uterus yang berlebihan sehingga mengakibatkan anemia, penekanan pada kandung kemih yang menyebabkan sering berkemih dan urgensi, serta potensial untuk terjadinya sistisis, penekanan pada rektum menyebabkan konstipasi dan nyeri jika tumor berdegenerasi atau jika terjadi torsi dari mioma bertangkai (Price, 2006: 1923).
Bedasarkan data yang diperoleh dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. H. Soewondo Kendal, pada tahun 2013 terdapat jumlah kasus mioma uteri sebanyak 70 kasus, sedangkan data yang diperoleh dari RSUD Dr. Adhiyatma kasus mioma uteri terdapat 11 kasus. Pada tahun 2014 bulan Januari sampai bulan Oktober di RSUD Dr. Adhiyatma terdapat 8 kasus mioma uteri, sedangkan di RSUD Dr. H. Soewondo kendal angka kejadian gangguan sistem reproduksi pada wanita mulai dari bulan Januari sampai bulan November 2014 terdapat 123 kasus, antara lain mioma uteri sebanyak 65 kasus (52,8%), kista ovarium sebanyak 45 kasus (36,5%), kista bartholini sebanyak 7 kasus (5,7%) dan prolaps uteri sebanyak 6 kasus (4,8%).
Berdasarkan keterangan dari salah satu bidan di RSUD Dr. H. Soewondo Kendal, saat pasien datang di poli atau di IGD kemudian dilakukan anamnesa dan juga beberapa pemeriksaan, langkah selanjutnya yaitu melakukan USG untuk menegakkan diagnosa. Apabila diketahui mioma dalam ukuran besar dokter menganjurkan kepada pasien untuk dilakukan histerektomi, tetapi apabila mioma berukuran kecil dokter menganjurkan untuk dilakukan curretage. Apabila pasien datang dengan keadaan lemah, hal pertama yang dilakukan adalah perbaikan keadaan umum terlebih dahulu dan apabila pasien terlihat pucat atau HB kurang dari 10gr% bila perlu diberikan tranfusi darah.
Dari latar belakang penulis tertarik untuk mengangkat tema atau mengambil kasus “Asuhan Kebidanan Gangguan Sistem Reproduksi pada Ny. S Dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal” dengan menerapkan manajemen kebidanan menurut Varney, serta pendokumentasian menurut SOAP.

B.   Tujuan Penulisan

1.    Tujuan Umum

Penulis dapat melaksanakan Asuhan Kebidanan Gangguan Sistem Reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri menggunakan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah Varney dan pendokumentasian dengan metode SOAP.

2.    Tujuan Khusus

a.    Penulis mampu melakukan pengumpulan data dasar baik data subyektif maupun obyektif, yang dibutuhkan untuk menilai keadaan pasien secara keseluruhan pada asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
b.    Penulis mampu menginterpretasi data pada asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
c.    Penulis mampu mendiagnosa masalah atau kebutuhan asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
d.    Penulis mampu menetapkan kebutuhan akan tindakan segera dan bekolaborasi pada asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
e.    Penulis mampu menyusun rencana asuhan atau intervensi secara menyeluruh pada asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
f.     Penulis mampu melaksanakan asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
g.    Penulis mampu mengevaluasi keefektifan asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.
h.    Penulis mampu melakukan pendokumentasian dengan SOAP pada asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi pada Ny. S dengan Mioma Uteri di Ruang Mawar RSUD Dr. H. Soewondo Kendal.

C.   Manfaat

1.    Bagi Penulis
Dapat dijadikan bahan acuan untuk penelitian selanjutnya dan menambah wawasan baik bagi penulis sendiri maupun setiap orang yang membaca hasil penelitian asuhan kebidanan gangguan sistem reproduksi.
2.    Bagi Institusi Pendidikan
Menambah kepustakaan dan bahan informasi mengenai masalah gangguan reproduksi dengan Mioma Uteri.
3.    Bagi Tenaga Kesehatan
Memberikan masukan dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan sehingga dapat meningkatkan mutu, serta kualitas tenaga kesehatan khususnya mengenai kasus Mioma Uteri.

D.     Metode Memperoleh Data

Metode pengumpulan data yang digunakan penulis dalam pengumpulan data adalah sebagai berikut :
1.    Anamnesa / Wawancara
Wawancara adalah pembicara yang terarah yang umumnya dilakukan pada pertemuan tatap muka langsung. Dalam wawancara yang penting diperhatikan adalah data yang dinyatakan diarahkan ke data yang relevan, berupa data subyektif (Asri, 2010: 76). Dalam kasus ini penulis melakukan anamnesa dengan cara auto anamnesa yaitu melakukan tanya jawab secara langsung kepada pasien seperti keluhan utama, riwayat perkawinan, riwayat menstruasi, riwayat obstetri, riwayat keluarga berencana, riwayat kesehatan, riwayat operasi, alergi obat/ makanan, pola pemenuhan kebutuhan sehari-hari, keadaan psikologi.
2.    Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik merupakan salah satu cara untuk mengetahui gejala atau masalah kesehatan yang dialami oleh pasien, menambah informasi, menyangkal data yang diperoleh dari riwayat pasien, mengidentifikasi masalah pasien, menilai perubahan status pasien, dan mengevaluasi pelaksanaan tindakan yang telah diberikan. Adapun pemeriksaan fisik dilakukan dengan 4 cara yaitu, pemeriksaan dengan inspeksi, perkusi, auskultasi, dan palpasi  (Muslihatun, 2008: 140). Pemeriksaan fisik pada pasien dengan mioma uteri yaitu :
a.    Inspeksi
Inspeksi merupakan proses observasi atau pengamatan  untuk mendeteksi masalah kesehatan  pada pasien. Cara efektif melakukan inspeksi dengan memberikan pencahayaan yang cukup agar dapat membedakan warna, bentuk dan kebersihan klien (Priharjo,2006: 25).
Pemeriksaan inspeksi pada pasien mioma uteri yaitu dilakukan pemeriksaan dalam dengan spekulum. Menentukan bagaimana besar rahim, posisi rahim, pergergerakan rahim, konsistensi rahim atau adakah nyeri saat pemeriksaan; pada adneksa (bagian kanan kiri rahim) apakah terdapat ketegangan atau kaku, terdapat tumor, atau terasa nyeri saat pemeriksaan ; forniks posterior ( Kavum Douglas) apakah menonjol karena terdapat nanah infeksi, apakah menonjol karena perdarahan kavum abdominalis (Manuaba, 2010: 557).
b.    Palpasi
Palpasi adalah pemeriksaan yang dilakukan dengan cara meraba. Tujuannya untuk mengetahui adanya kelainan, mengetahui perkembangan kehamilan (Romauli, 2011: 175).
Pemeriksaan palpasi pada pasien mioma uteri akan teraba massa di daerah supra pubis atau abdomen bagian kuadran bawah dengan konsistensi padat kenyal, bulat, berbatas tegas, sering berbenjol atau bertangkai, mudah digerakkan, tidak nyeri (Nugroho, 2010: 108). 
3.    Pemeriksaan Penunjang
Pada kondisi tertentu,  pasien harus menjalani beberapa pemeriksaan penunjang untuk melengkapi data yang telah dikumpulkan dan keperluan menegakkan diagnosis pasien, misalnya : pemeriksaan laboratorium, USG, biopsi (Muslihatun, 2009: 216-217). Pada penderita mioma uteri dilakukan pemeriksaan laboratorium, USG, Laparoskopi, tes kehamilan dan pemeriksaan dalam. Pemeriksaan laboratorium dilakukan dengan pemeriksaan darah lengkap, urine lengkap, gula darah, tes fungsi hati, ureum, dan kreatinin. Pemeriksaan USG untuk menentukan jenis
tumor, lokasi mioma, ketebalan endometrium, dan keadaan adnexa dalam rongga pelvis. Pemeriksaan laparoskopi dilakukan untuk mengevaluasi massa pada pelvis. Pemeriksaan tes kehamilan dilakukan untuk mendeteksi adanya komplikasi yang terjadi pada pasien yang sedang hamil, pemeriksaan dalam dilakukan untuk memeriksa besar kecil tumor dan pergerakan tumor dapat berbatas tegas atau bebas (Setiati, 2009: 95-96).

4.    Dokumentasi
Dokumentasi adalah persiapan atau catatan komunikasi mendorong untuk membuktikan suatu informasi atau kejadian. Dalam pelayanan kebidanan, dokumentasi merupakan bagian dari kegiatan bidan setelah memberikan asuhan kebidanan (Muslihatun, 2009: 3).
Penulis mengumpulkan data dengan cara melihat Rekam Medis (RM) pasien yang meliputi catatan keperawatan / catatan kebidanan serta hasil diagnosa dari status pasien dan mempelajarinya sehingga dapat membantu dalam penulisan karya tulis ilmiah ini.
5.    Studi Kasus
Studi kasus dilakukan dengan cara meneliti suatu permasalahan melalui suatu kasus yang terdiri dari unit tunggal (Notoatmodjo, 2010: 47). Penulis membuat asuhan kebidanan gangguan reproduksi dengan mioma uteri mulai dari data-data yang telah dikumpulkan seperti anamnesa dan pemeriksaan fisik sampai dengan melakukan evaluasi.
6.    Studi Literatur
Studi literatur dilakukan untuk memperoleh dukungan teoritis terhadap masalah penelitian yang dipilih, maka penulis perlu banyak membaca buku literatur, baik berupa buku-buku teks (teori) maupun hasil penelitian orang lain, majalah, jurnal dan sebagainya (Notoatmodjo, 2010: 22). Dalam pengumpulan data-data dan teori penulis mengambil dari sumber buku-buku masalah ginekologi serta hasil penelitian orang lain dari internet. Sehingga dapat memberikan gambaran yang lebih jelas dan relevan dengan kasus mioma uteri.

E.    Sistematika Penulisan

Dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini terbagi menjadi lima bab :
BAB I :  Pendahuluan
Berisi latar belakang, tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode memperoleh data, dan sistematika penulisan.
BAB II :  Tinjauan Teori
Berisi landasan teori yang digunakan oleh penulis dengan memberikan konsep pengembangan yang terdiri dari tinjauan teori mioma uteri yang meliputi : batasan / definisi, etiologi / faktor presdiposisi, fisiologi / patofisiologi, tanda dan gejala, pemeriksaan penunjang, dan penatalaksanaan medis pada  kasus mioma uterii dan teori kebidanan. Dalam teori kebidanan masih dibagi menjadi dua bagian yaitu manajemen kebidanan dan pendokumentasian dengan SOAP.
BAB III : Tinjauan Kasus
Berisi tentang tinjauan kasus dilahan mulai dari pengkajian data, interpretasi data, diagnosa potensial, identifikasi kebutuhan segera, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
BAB IV : Bahasan
Menguraikan tentang kesamaan atau kesenjangan dan masalah yang muncul serta cara mengatasinya selama melaksanakan asuhan kebidanan dengan teori-teori atau konsep-konsep.
BAB V : Penutup
Berisi tentang kesimpulan dan saran-saran yang sesuai dengan masalah.
Daftar pustaka
Lampiran.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA


A.   Teori Medis

1.    Pengertian

Mioma uteri adalah suatu tumor jinak pada rahim yang berasal dari otot rahim. Biasa disebut mioma atau myom atau tumor otot rahim (Rukiah, 2012: 141). Mioma uteri merupakan tumor jinak yang struktur utamanya adalah otot polos rahim (Winkjosastro, 2011: 274).
Mioma uteri merupakan tumor jinak otot rahim yang disertai jaringan ikatnya. Mioma uteri berbatas tegas, tidak berkapsul, dan berasal dari otot polos jaringan fibrous sehingga mioma uteri dapat berkonsistensi padat jika jaringan ikatnya dominan dan berkonsistensi lunak jika otot rahimnya yang dominan (Setiati, 2009: 84).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa mioma uteri adalah sebuah tumor jinak yang ada didalam rahim dan tumor tersebut berasal dari otot polos rahim. Karena berasal dari otot polos rahim maka biasa disebut tumor otot rahim atau mioma dan myom.

2.    Etiologi

Penyebab pasti mioma  uteri tidak diketahui secara pasti. Mioma jarang sekali ditemukan sebelum usia pubertas, sangat dipengaruhi oleh hormon reproduksi, dan hanya bermanifestasi selama usia reproduktif (Winkjosastro, 2011: 274). Namun, pertumbuhannya tampak berkaitan dengan stimulasi estrogen karena mioma sering membesar pada saat kehamilan dan penggunaan obat kontrasepsi oral, dan menyusut saat menopouse. Mungkin juga terdapat komponen genetik (Suslia, 2014: 463).
Ada beberapa faktor yang diduga merupakan penyebab terjadinya mioma uteri, antara lain :
a.    Umur : mioma uteri jarang terjadi pada usia kurang dari 20 tahun. Ditemukan sekitar 10% pada wanita berusia lebih dari 40 tahun. Tumor ini paling sering memberikan gejala klinis pada usia antara 35-45 tahun.
b.    Paritas : lebih sering terjadi pada nulipara atau pada wanita yang relatif infertil, tetapi sampai saat ini belum diketahui apakah infertilitas menyebabkan mioma uteri atau sebaliknya, mioma uteri yang menyebabkan infertilitas atau apakah keadaan kedua ini saling mempengaruhi.
c.    Faktor ras dan genetik : pada wanita ras tertentu, khususnya wanita berkulit hitam, angka kejadian mioma uteri tinggi. Terlepas dari faktor ras, kejadian tumor ini tinggi pada wanita dengan riwayat keluarga ada yang menderita mioma.
d.    Fungsi ovarium : diperkirakan ada korelasi antara hormon estrogen dengan pertumbuhan mioma, dimana mioma uteri muncul setelah menarke, berkembang setelah kehamilan, dan mengalami regresi setelah menopouse. Pemberian agonis GnRH dalam waktu lama sehingga terjadi hipoestrogenik dapat mengurangi ukuran mioma. Pertumbuhan mioma uteri sangat cepat saat kehamilan dan jika dilakukan terapi ekstrogen eksogen. Mioma akan mengecil pada saat menopouse dan pengangkatan ovarium. Mioma uteri banyak ditemukan bersamaan dengan anovulasi ovarium dan wanita dengan sterilitas. Enzim hydroxydesidrosenase mengubah estradiol (sebuah estrogen kuat) menjadi estron (estrogen lemah). Efek estrogen pada pertumbuhan mioma mungkin berhubungan dengan respon mediasi oleh estrogen terhadap reseptor dan faktor pertumbuhan lain. Progesteron merupakan antagonis natural dari estrogen. Progesteron menghambat pertumbuhan mioma dengan dua cara, yaitu mengaktifkan hidroxydsidrogenase dan menurunkan jumlah reseptor estrogen pada tumor. Terdapat bukti peningkatan produksi reseptor progesteron, faktor pertumbuhan epidermal, dan insuline-like growth factor pertama yang distimulasi oleh estrogen.
(Setiati, 2009: 86-88).
e.    Obesitas : wanita yang terlalu gemuk (obesitas) tidak memiliki keturunan dan tidak menikah memiliki faktor yang besar terkena mioma uteri (Aulia, 2012: 57). Untuk mengetahui wanita tersebut obesitas atau tidak yaitu dihitung dengan IMT ( Indeks Masa Tubuh) rumusnya IMT = BB (kg) : TB (m)2. IMT normal yaitu 18,5-22,9 (Kurniasari, 2010: 27).

3.    Patofisiologi

Asal mulanya penyakit mioma uteri berasal dari otot polos rahim. Beberapa teori menyebutkan pertumbuhan tumor ini disebabkan rangsangan hormon estrogen. Pada jaringan mioma jumlah reseptor estrogen lebih tinggi dibandingkan jaringan otot kandungan (miometrium) sekitarnya sehingga mioma uteri ini sering sekali tumbuh lebih cepat pada kehamilan (membesar pada usia reproduksi) dan biasanya berkurang ukurannya setelah menopouse (mengecil pada pasca menopouse). Sering kali tumor jinak rahim kearah rongga ini membesar dan bertumbuh keluar dari mulut rahim. Tumor yang ada dalam rahim dapat tumbuh lebih dari satu, teraba seperti kenyal, bentuknya bulat dan berbenjol-benjol sesuai ukuran tumor. Beratnya bervariasi, mulai dari beberapa gram saja, namun bisa juga mencapai lima kilogram atau lebih (Rukiyah, 2012: 141).

4.    Klasifikasi

Sarang mioma di uterus dapat berasal dari serviks uterus hanya 1-3%, sisanya adalah dari korpus uteri. Sesuai dengan lokasinya, mioma ini dibagi menjadi tiga jenis, antara lain :
a.    Mioma Submukosum
Mioma ini berada di bawah lapisan endometrium  dan menonjol ke dalam kavum uteri, dapat tumbuh bertangkai dan dilahirkan melalui serviks (myomgemburt) (Rasjidi, 2010: 25). Pengaruhnya pada vaskularisasi dan luas permukaan endometrium menyebabkan terjadinya perdarahan ireguler. Mioma jenis ini dapat bertangkai panjang sehingga dapat keluar melalui ostium serviks. Yang harus diperhatikan dalam menangani mioma bertangkai adalah kemungkinan terjadinya torsi dan nekrosis sehingga risiko infeksi sangatlah tinggi (Winkjosastro, 2011: 275).
b.    Mioma Intramural
Mioma ini terletak di dalam dinding uterus diantara serabut miometrium (Rasjidi, 2010: 26). Mioma intramural atau insterstisiel adalah mioma yang berkembang diantara miometrium (Winkjosastro, 2011: 275).
c.    Mioma Subserosum : tumbuh keluar dinding uterus hingga menonjol pada permukaan uterus, diliputi oleh lapisan serosa (Rasjidi, 2010: 26). Mioma  subserosa juga dapat menjadi parasit omentum atau usus untuk vaskularisasi tambahan bagi pertumbuhannya (Winkjosastro, 2011: 275).

5.    Degenerasi

Bila terjadi perubahan pasokan darah selama pertumbuhannya, maka mioma dapat mengalami perubahan sekunder atau degeneratif sebagai berikut :
a.    Degenerasi Jinak
1)    Atrofi : ditandai dengan pengecilan tumor yang umumnya terjadi setelah persalinan atau menopouse.
2)    Hialin : terjadi pada mioma yang telah matang atau “tua” di mana bagian yang semula aktif tumbuh kemudian terhenti akibat kehilangan pasokan nutrisi dan berubah warnanya menjadi kekuningan, melunak atau melebur menjadi cairan gelatin sebagai tanda terjadinya degenerasi hialin.
3)    Kistik : setelah mengalami hialinisasi, hal tersebut berlanjut dengan cairnya gelatin sehingga mioma konsistensinya menjadi kistik. Adanya kompresi atau tekanan fisik pada bagian tersebut dapat menyebabkan keluarnya cairan kista ke kavum uteri, kavum peritonium, atau retroperitonium.
4)    Kalsifikasi : disebut juga degenerasi kalkareus yang umumnya mengenai mioma subserosa yang sangat rentan terhadap defisit sirkulasi yang dapat menyebabkan pengendapan kalsium karbonat dan fosfat di dalam tumor.
5)    Septik : defisit sirkulasi dapat menyebabkan mioma mengalami nekrosis di bagian tengah tumor yang berlanjut dengan infeksi yang ditandai dengan nyeri, kaku dinding perut, dan demam akut.
6)    Kaneus : disebut juga degenerasi merah yang diakibatkan oleh trombosis yang diikuti dengan terjadinya bendungan vena dan perdarahan sehingga menyebabkan perubahan warna mioma. Degenerasi jenis ini, seringkali terjadi bersamaan dengan kehamilan karena kecepatan pasokan nutrisi bagi hipertrofi miometrium lebih & diprioritaskan sehingga mioma mengalami defisit pasokan dan terjadi degenerasi aseptik dan infark. Degenerasi ini disertai rasa nyeri tetapi akan menghilang sendiri (self limited).
7)    Miksomatosa : disebut juga degenerasi lemak yang terjadi setelah proses degenerasi hialin dan kistik. Degenerasi ini sangat jarang dan umumnya asimtomatik.
b.    Degenerasi Ganas
Transformasi ke arah keganasan (menjadi miosarkoma) terjadi pada 0,1% - 0,5% penderita mioma uteri.
(Winkjosastro, 2011: 275-276).

6.    Tanda dan Gejala

Gejala klinik hanya terjadi pada 35% -50% penderita mioma. Hampir sebagian besar penderita tidak mengetahui bahwa terdapat kelainan di dalam uterusnya, terutama sekali pada penderita dengan obesitas. Keluhan penderita sangat tergantung pula dari lokasi atau jenis mioma yang diderita. Berbagai keluhan penderita dapat berupa :
a.    Perdarahan Abnomali Uterus
Perdarahan menjadi manifestasi klinik utama pada mioma dan hal ini terjadi pada 30% penderita. Bila terjadi secara kronis maka dapat terjadi anemia defisiensi zat besi dan bila berlangsung lama dan dalam jumlah yang besar maka sulit untuk dikoreksi dengan suplementasi zat besi. Perdarahan pada mioma submukosa seringkali diakibatkan oleh hambatan pasokan darah endometrium, tekanan dan bendungan pembuluh darah di area tumor (terutama vena) atau ulserasi endometrium di atas tumor. Tumor bertangkai seringkali menyebabkan trombosis vena dan nekrosis endometrium akibat tarikan dan infeksi (vagina dan kavum uteri terhubung oleh tangkai yang keluar dari ostium serviks). Dismenorea dapat disebabkan oleh efek tekanan, kompresi, termasuk hipoksia lokal miometrium.
b.    Nyeri
Mioma tidak menyebabkan nyeri dalam pada uterus kecuali apabila kemudian terjadi gangguan vaskuler. Nyeri lebih banyak terkait dengan proses degenerasi akibat oklusi pembuluh darah, infeksi, torsi tangkai mioma atau kontraksi uterus sebagai upaya untuk mengeluarkan mioma subserosa dari kavum uteri. Gejala abdomen akut dapat terjadi bila torsi berlanjut dengan terjadinya infark atau degenerasi merah yang mengiritasi selaput peritoneum (seperti peritonitis). Mioma yang besar dapat menekan rektum sehingga menimbulkan sensasi untuk mengedan. Nyeri pinggang dapat terjadi pada penderita mioma yang menekan persarafan yang berjalan di atas permukaan tulang pelvis.
c.    Efek Penekanan
Walaupun mioma dihubungkan dengan adanya desakan tekan, tetapi tidaklah mudah untuk menghubungkan adanya penekanan organ dengan mioma. Mioma intramural sering dikaitkan dengan penekanan terhadap organ sekitar. Parasitik mioma dapat menyebabkan obstruksi saluran cerna perlekatannya dengan omentum menyebabkan strangulasi (penyumbatan), dispareunia, dan infertilitas.
Bila ukuran tumor lebih besar lagi, akan terjadi penekanan ureter, kandung kemih dan rektum. Semua efek penekanan ini dapat dikenali melalui pemeriksaan Intra Vena Pielografi (IVP), kontras saluran cerna, rontgen, dan Magnetic Resonan Imaging (MRI). Abortus spontan dapat disebabkan oleh efek penekanan langsung mioma terhadap kavum uteri (Winkjosastro, 2011: 277).
Menurut Ai Yeyeh Rukiah dan Lia Yulianti (2012: 142), gejala yang timbul pada pasien mioma uteri bergantung pada lokasi dan besarnya tumor, namun yang paling sering ditemukan adalah :
1)    Sering abortus karena terdapat gangguan tumbuh kembang janin dalam rahim melalui plasenta;
2)    Gejala sekunder biasanya terjadi anemia (pendarahan), uremia (desakan ureter menimbulkan gangguan fungsi ginjal);
3)    Pendarahan yang banyak dan lama selama masa haid ataupun diluar masa haid;
4)    Rasa nyeri karena tekanan tumor dan terputarnya tangkai tumor, serta adanya infeksi di dalam rahim;
5)    Penekanan organ di sekitar tumor seperti kandung kemih, ureter, rektum atau organ rongga panggul lainnya, menimbulkan gangguan buang air basar dan buang air kecil, pelebaran pembuluh darah vena dalam pangggul, gangguan ginjal karena pembengkakan tangkai tumor;
6)    Gangguan sulit hamil karena terjadi penekanan pada saluran indung telur;
7)    Pada bagian bawah perut dekat rahim terasa kenyal;
8)    Sering kali penderita merasa nyeri akibat mioma mengalami degenerasi atau kontraksi uterus berlebihan pada mioma yang tumbuh ke dalam rongga rahim. Pasangan suami istri sering kali sulit untuk punya anak (infertilitas) disebabkan gangguan pada tuba, gangguan implantasi pada endometrium, penyumbatan dan sebagainya.

7.    Penatalaksanaan Medik

Penanganan mioma harus memperhatikan usia, paritas, kehamilan, konservasi fungsi reproduksi, keadaan umum, dan gejala yang ditimbulkan. Bila kondisi pasien sangat buruk, lakukan upaya perbaikan yang diperlukan termasuk nutrisi, suplementasi zat esensial, ataupun tranfusi. Pada keadaan gawat darurat akibat infeksi atau gejala abdominal akut, siapkan tindakan bedah gawat darurat untuk menyelamatkan penderita. Pilihan prosedur bedah terkait dengan mioma uteri adalah miomektomi atau histerektomi (Winkjonsatro 2011: 278).
Menurut Setiati Eni (2009: 97-100) penanganan mioma uteri dibagi atas kelompok-kelompok sebagai berikut :
a.    Penanganan konservatif, dilakukan jika mioma yang kecil muncul pada pra dan post menopouse tanpa adanya gejala. Cara penanganannya adalah :
1)    Observasi dengan pemeriksaan pelvis secara periodik setiap 3-6 bulan;
2)    Jika terjadi anemia, maka Hb kurang, yang dilakukan adalah pemberian zat besi ke pasien;
3)    Penggunaan agonis GnRH leuprolid asetat 3,75 mg IM pada hari pertama sampai hari ketiga menstruasi setiap minggu, sebanyak tiga kali. Obat ini mengakibatkan pengerutan tumor dan menghilangkan gejala. Obat ini  menekan sekresi gonadotropin dan menciptakan keadaan hipoestrogenik yang serupa dengan yang ditemukan pada periode postmenopouse. Efek maksimum dalam mengurangi ukuran tumor diobservasi dalam 12 minggu. Terapi agonis GnRH ini dapat pula diberikan sebelum pembedahan karena memberikan beberapa keuntungan, antara lain mengurangi hilangnya darah selama pembedahan dan mengurangi kebutuhan akan transfusi darah.
b.    Penanganan operatif, dilakukan jika terjadi hal-hal berikut ;
1)    Ukuran tumor lebih besar dari ukuran usia kehamilan 12-14 minggu;
2)    Pertumbuhan tumor cepat;
3)    Mioma subserosa bertangkai dan torsi;
4)     Dapat mempersulit kehamilan berikutnya;
5)    Hipermenorea pada mioma submukosa;
6)    Penekanan pada organ sekitarnya.
Jenis penanganan operatif yang dilakukan untuk mengatasinya dapat berupa :
1)    Enukleasi Mioma (Pengangkatan Mioma)
Langkah ini dilakukan pada penderita yang infertil, masih menginginkan anak, atau mempertahankan uterus demi kelangsungan fertilitas. Sejauh ini, tampaknya langkah ini aman, efektif, dan masih menjadi pilihan terbaik. Enukleasi sebaiknya tidak dilakukan jika ada kemungkinan terjadinya karsinoma endometrium atau sarkoma uterus dan dihindari pada masa kehamilan. Tindakan ini seharusnya dibatasi pada tumor dengan tangkai dan tumor yang dengan mudah dijepit dan diikat. Bila miomektomi menyebabkan cacat yang menembus atau sangat berdekatan dengan endometrium, maka kehamilan berikutnya harus dilahirkan dangan seksio sesarea. Menurut American Collage of Obstetricians Gynekologist (ACOG), kriteria preoperasi adalah sebagai berikut:
a)    Kegagalan untuk hamil atau keguguran berulang;
b)    Terdapat mioma dalam ukuran yang kecil dan berbatas tegas;
c)    Alasan yang jelas dari penyebab kegagalan kehamilan dan keguguran yang berulang tidak ditemukan.
2)    Histerektomi
Histerektomi dilakukan jika pasien tidak menginginkan anak lagi dan pada pasien yang memiliki mioma yang simptomatik atau yang sudah bergejala. Kriteria ACOG untuk histerektomi adalah sebagai berikut :
a)    Terdapat satu sampai tiga mioma asimptomatik atau yang dapat teraba dari luar dan dikeluhkan oleh pasien;
b)    Perdarahan uterus berlebihan;
c)    Perdarahan yang banyak, bergumpal-gumpal, atau berulang-ulang selama lebih dari delapan hari;
d)    Anemia akut atau kronis akibat kehilangan darah.
Rasa tidak nyaman pada bagian pelvis akibat mioma meliputi hal-hal berikut:
(1)  Nyeri hebat dan akut;
(2)  Rasa tertekan yang kronis dibagian punggung bawah atau perut bagian bawah;
(3)  Penekanan buli-buli dan frekuensi urine yang berulang-ulang dan tidak disebabkan infeksi saluran kemih.
3)    Penanganan Radioterapi
Tujuan dari radioterapi adalah untuk menghentikan perdarahan. Langkah ini dilakukan sebagai penanganan dengan kondisi sebagai berikut :
a)    Hanya dilakukan pada pasien yang tidak dapat dioperasi (bad risk patient);
b)    Uterus harus lebih kecil dari usia kehamilan 12 minggu;
c)    Bukan jenis submukosa;
d)    Tidak disertai radang pelvis atau penekanan pada rektum;
e)    Tidak dilakukan pada wanita muda karena dapat menyebabkan menopouse.

8.    Diagnosis Banding

Diagnosis banding yang perlu kita pikirkan tumor abdomen di bagian bawah atau panggul adalah mioma subserosum dan kehamilan, mioma submukosum yang dilahirkan harus dibedakan dengan inversio uteri; mioma intramural harus dibedakan dengan suatu adenomiosis, khoriokarsinoma, karsinoma korposis uteri atau suatu sarkoma uteri. USG abdominal dan trasvaginal dapat membantu dalam menentukan dugaan klinis (Marmi, 2011: 212).
Diagnosis banding mioma antara lain adenomiosis, kehamilan, kehamilan ektopik, kista atau tumor ovarium, keganasan, Penyakit Radang Panggul (PRP), infeksi saluran kemih, subinvolusi, kelainan kongenital, hiperplasia endometrium/ kanker endometrium, (Tubo Ovarial Abscess) TOA atau patologi tuba lain, apendisitis, tumor usus atau patologi lain, endometriosis (sering menyertai mioma), dan kanker ovarium serta kanker uterus. Diagnosis dugaan ditegakkan berdasarkan pemeriksaan pelvis, yang dikonfirmasi dengan ultrasonografi, Magnetic Resonan Imaging (MRI) (untuk membedakan adenomioma dari mioma), Computerized Tomografi Scanning) CT scan (hasil yang masih diragukan), histerosalpingogram, histerosonogram, atau endokospi. Jika terjadi perdarahan abnormal atau jika wanita menderita adenomiosis, biopsi endometrium dilakukan untuk menyingkirkan hiperplasia endometrium (Komalasari, 2009: 610).

B.   Teori Manajemen Asuhan Kebidanan

1.    Pengertian Manajemen Kebidanan

Manajemen kebidanan adalah pendekatan yang digunakan oleh bidan dalam menerapkan metode pemecahan masalah secara sistematis mulai dari pengkajian, analisa data, diagnosa kebidanan, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi (Estiwidani, 2008: 124). Bidan sebagai pemberi asuhan harus mampu memegang prinsip pelaksanaan pelayanan kebidanan dengan pola pikir yang benar, asuhan yang benar, prosedur praktik yang benar, dan pendokumentasian asuhan yang benar. Pola pikir yang benar adalah pola pikir yang sistematis dan berdasarkan fakta (Simatupang, 2008: 122). Manajemen asuhan kebidanan terdiri dari beberapa langkah yang berurutan dimulai dengan pengumpulan data dasar dan berakhir dengan evaluasi. Langkah-langkah tersebut membentuk kerangka yang lengkap yang bisa diaplikasikan dalam semua situasi (Sujiati, 2009: 143).

2.    Tujuh Langkah Manajemen Kebidanan Menurut Hellen Varney

a.    Langkah I  :Pengumpulan data
Data yang harus dikumpulkan pada pasien dengan gangguan sistem reproduksi, meliputi : biodata/ identitas baik pasien maupun suami/ keluarga, data subyektif dan data obyektif, yang terdiri atas pemeriksaan fisik, pemeriksaan panggul  dan pemeriksaan panggul dan pemeriksaan laboratorium/ penunjang lainnya. Biodata yang dikumpulkan dari pasien dan suami/ keluarganya, meliputi nama, umur, agama, suku/ bangsa, pendidikan, pekerjaan dan alamat lengkap (Muslihatun, 2009: 215).
b.    Langkah II : Interpretasi data dasar
Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan atau masalah atau diagnosa yang spesifik.
Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standar nomenklatur diagnosa kebidanan.
Masalah / diagnosa adalah suatu pernyataan dari masalah pasien / klien yang nyata atau potensial dan membutuhkan tindakan untuk merencanakan cara mengatasinya (Muslihatun, 2009: 217).
Kebutuhan pada pasien bedasarkan keadaan dan masalahnya. Misalnya bidan memberikan KIE kepada ibu dan keluarga yang menjadi masalah ibu (Sulistyawati, 2011: 180).
c.    Langkah III: Diagnosa potensial
Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau mendiagnosis potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosis yang telah diidentifikasikan. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien, bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosis/ masalah potensial ini benar-benar terjadi. Langkah ini penting sekali dalam melakukan asuhan yang aman (Estiwidani, 2008: 135).
d.    Langkah IV: Antisipasi tindakan segera
Mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan, dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Jika diagnosa potensial muncul, maka identifikasi kebutuhan segera dapat dilakukan sesuai dengan kebutuhan ibu atau bidan berkolaborasi dengan dokter spesialis kebidanan atau dokter berkolaborasi dengan tim kesehatan yang lain (Muslihatun, 2009: 117).
e.    Langkah V : Perencanaan
Pada langkah ini, direncanakan asuhan yang menyeluruh yang ditentukan oleh langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan manajemen terhadap diagnosis atau masalah yang telah diidentifikasikan atau diantisipasi. Setiap rencana asuhan harus disetujui oleh kedua pihak, yaitu oleh bidan dan klien agar dapat dilaksanakan dengan efektif karena klien merupakan bagian dari pelaksanaan rencana tersebut (Simatupang, 2008: 125).
f.     Langkah VI: Pelaksanaan
Pada langkah ini rencana asuhan yang menyeluruh di langkah kelima harus dilaksanakan secara efisien dan aman. Dalam situasi dimana bidan berkolaborasi dengan dokter, untuk klien yang mengalami komplikasi, maka keterlibatan bidan dalam manajemen asuhan bagi klien adalah bertanggung jawab terhadap terlaksananya rencana asuhan bersama yang menyeluruh tersebut (Muslihatun, 2009: 118).


g.    Langkah VII: Evaluasi
Pada langkah ini dilakukan evaluasi keefektifan dari asuhan yang sudah diberikan meliputi pemenuhan kebutuhan akan bantuan apakah benar-benar terpenuhi sesuai dengan kebutuhan sebagaimana telah diidentifiakasi didalam diagnosa dan masalah dan diagnosis. Rencana  tersebut  lebih efektif jika memang benar efektif dalam pelaksanaanya. Ada kemungkinan bahwa sebagian rencana tersebut lebih efektif sedangkan sebagian belum efektif. Proses manajemen pada umumnya merupakan pengkajian yang menjelaskan proses pemikiran yang mempengaruhi tindakan serta berorientasi pada proses klinik (Muslihatun, 2009:119).

4.    Pendokumentasian

Manajemen SOAP : Menurut Helen Varney, alur berfikir bidan saat menghadapi klien meliputi tujuh langkah, agar diketahui orang lain apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berfikir sistematis, maka di dokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :
a.    S : Subyektif
Merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen Varney langkah pertama (pengkajian data), terutama data yang diperoleh melalui anamnesis.
b.    O : Obyektif
Merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen Varney pertama (pengkajian data), terutama data yang diperoleh melalui hasil observasi yang jujur dari pemeriksaan fisik pasien, pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan lain.
c.    A : Assesment
Merupakan pendokumentasian hasil analisis dan interpretasi (kesimpulan) dari data subyektif dan obyektif. Assesment merupakan pendokumentasian manajemen kebidanan menurut Helen Varney langkah kedua, ketiga, dan keempat sehingga mencakup hal-hal berikut ini :
1)    Diagnosis/ masalah kebidanan;
2)    Diagnosis/ masalah potensial;
3)    Identifikasi kebutuhan tindakan segera menurut kewenangan bidan.
d.    P : Planing
Membuat rencana asuhan saat ini dan yang akan datang. Rencana asuhan disusun berdasarkan hasil analisis dan interpretasi data. Perencanaan meliputi pendokumentasian manajemen kebidanan Helen Varney langkah kelima, keenam dan ketujuh (Muslihatun, 2009: 123).
C.   Landasan Hukum Kewenangan Bidan Pada Kasus Gangguan Kesehatan Sistem Reproduksi
1.    Dalam PERMENKES RI NOMOR 1464/MENKES/PER/X/2010 pada BAB III tentang penyelenggaraan praktik, antara lain :
a.    Pada pasal 9 dijelaskan bahwa bidan dalam menjalankan praktik, berwenang untuk memberikan pelayanan yang meliputi :
1)    Pelayanan kesehatan ibu;
2)    Pelayanan kesehatan anak; dan
3)    Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana.
b.    Pada pasal 12 dijelaskan bahwa bidan dalam memberikan pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 huruf c, berwenang untuk :
1)    Memberikan penyuluhan dan konseling kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana; dan
2)    Memberikan alat kontrasepsi oral dan kondom.
2.    Kompetensi bidan di Indonesia Dalam melaksanakan Asuhan Kebidanan Pada Wanita/ Ibu dengan Gangguan Reproduksi terdapat pada kompetensi 9.
a.    Pengetahuan dasar
1)    Penyuluhan kesehatan mengenai kesehatan reproduksi, penyakit menular seksual (PMS), HIV/AIDS.
2)    Tanda dan gejala infeksi saluran kemih serta penyakit seksual yang lazim.
3)    Tanda, gejala dan penatalaksanaan pada kelainan ginekologi meliputi : keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid.
b.    Keterampilan dasar
1)    Mengidentifikasi gangguan masalah dan kelainan-kelainan sistem reproduksi.
2)    Memberikan pengobatan pada perdarahan abnormal dan abortus spontan (bila belum sempurna)
3)    Melaksanakan kolaborasi dan atau rujukan secara tepat pada wanita/ ibu dengan gangguan sistem reproduksi
4)    Memberikan pelayanan dan pengobatan sesuai dengan kewenangan pada gangguan sistem reproduksi meliputi: keputihan, perdarahan tidak teratur dan penundaan haid
5)    Mendokumentasikan temuan-temuan dan intervensi yang dilakukan.
3.    Keterampilan tambahan
1)    Menggunakan mikroskop untuk pemeriksaan hapusan vagina
2)    Mengambil dan pengiriman sediaan pap smear

(Estiwidani et al, 2008; 97-98).